Mengenal Perbedaan Speech Delay dan Speech Disorder

Copy Link

Tumbuh Kembang
22 August 2022
author

Tumbuh Kembang – Ayah dan Bunda yang tengah memiliki buah hati berusia balita pasti sedang merasa bahagia karena anak pada usia tersebut sedang lucu-lucunya. Namun tentu saja tidak hanya lucunya saja yang kita inginkan. Karena dalam perjalanan tumbuh kembang si Kecil terkadang mengalami hambatan, salah satunya ada terlambat bicara atau biasa disebut dengan istilah speech delay. Lalu tahukah Ayah dan Bunda, keterlambatan bicara anak tidak hanya speech delay namun ada speech disorder juga.

Ayah dan Bunda pasti sudah memahami bagaimana anak balita sedang berada pada masa tumbuh kembang yang pesat, yang tentu saja tidak bisa kita lewatkan begitu saja. Apalagi yang berhubungan dengan perkembangan bicaranya, karena kemampuan bicara anak balita menjadi salah satu hal yang ditunggu-tunggu oleh semua orang tua.

Baca Juga  Melatih Anak Sabar & Disiplin saat Puasa: Tips agar Si Kecil Semangat Beribadah!

Perkembangan bicara menjadi salah satu sorotan utama dalam memperhatikan tumbuh kembang anak balita. Orang tua yang memiliki anak balita dengan kemampuan bicara yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangan sesuai usianya tentu merasa khawatir. Terkadang orang tua langsung menyimpulkan jika anaknya tengah mengalami terlambat bicara. Namun pernahkah Ayah dan Bunda bertanya apakah si Kecil benar-benar mengalami speech delay (terlambat bicara)? Ataukah ada keluhan lain?

Ayah dan Bunda perlu mengetahui bahwa gangguan keterlambatan bicara tidak hanya speech delay saja, namun ada juga speech disorder. Lalu apa perbedaan kedua istilah tersebut?

Speech Delay

Speech delay atau terlambat bicara terjadi ketika kemampuan bicara anak tidak sesuai dengan usianya. Untuk mendeteksi apakah anak mengalami keterlambatan bicara maka Ayah dan Bunda perlu mengetahui tahapan berbicara pada anak sesuai usianya.

Baca Juga  Anak Terlambat Bicara? Ini Cara Lembut Menstimulasi dengan Cinta, Bunda!

Kendati dikatakan perkembangan setiap anak berbeda-beda, namun terdapat tolak ukur yang jelas untuk menentukan apakah anak sudah tumbuh dan berkembang secara normal atau tidak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah memberikan tolak ukur yang jelas dalam tahapan perkembangan bicara pada anak usia dini. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Perkembangan bicara bayi adalah bisa melakukan cooing atau berceloteh tanpa arti
Perkembangan bicara bayi adalah bisa melakukan cooing atau berceloteh tanpa arti

Usia 0-6 bulan

  • Saat lahir, bayi hanya dapat menangis untuk menyatakan keinginannya.
  • Pada usia 2-3 bulan, bayi mulai dapat membuat suara-suara seperti “aah” atau “uuh” yang dikenal dengan istilah cooing. Ia juga senang bereksperimen dengan berbagai bunyi yang dapat dihasilkannya, misalnya suara menyerupai berkumur. Bayi juga mulai bereaksi terhadap orang lain dengan mengeluarkan suara.
  • Setelah usia 3 bulan, bayi akan mencari sumber suara yang didengarnya dan menyukai mainan yang mengeluarkan suara.
  • Mendekati usia 6 bulan, bayi dapat merespons terhadap namanya sendiri dan mengenali emosi dalam nada bicara. Cooing berangsur menjadi babbling, yakni mengoceh dengan suku kata tunggal, misalnya “papapapapa,” “dadadadada,” “bababababa,” “mamamamama.” Bayi juga mulai dapat mengatur nada bicaranya sesuai emosi yang dirasakannya, dengan ekspresi wajah yang sesuai.
  • Waspada bila bayi tidak menoleh jika dipanggil namanya dan tidak ada babbling.
Tags :
Artikel Terbaru

Artikel Lainnya