Daftar Isi
Kelima: Sosialisasi
Agar anak dapat berteman dengan anak seusianya, maka anak disabilitas intelektual perlu diajarkan cara bersosialisasi. Dengan begitu maka anak dapat bermain dengan teman sesuainya serta dapat bermain dengan mengetahui aturan. Beberapa indikator keberhasilan dalam mengajarkan sosialisasi ini yaitu anak dapat meminta secara baik-baik saat tertarik dengan mainan anak lain tanpa merebutnya.

Selain itu anak dapat tertawa di waktu yang tepat. Misalnya saat ada hal yang lucu, bukan saat temannya jatuh atau terluka. Aspek sosial memiliki kaitan yang besar dengan bagaimana anak dapat menjaga hubungan yang baik dengan teman di sekitarnya, dengan orang tuanya, dan guru–gurunya.
Keenam: Kontrol Emosi
Pada banyak kasus anak disabilitas intelektual akan mengalami speech delay atau terlambat bicara seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Saat anak mengalami speech delay maka ia akan kesulitan dalam menyampaikan apa yang ia inginkan maupun apa yang ia rasakan.
Jika sudah demikian maka anak akan merasa tertekan dan marah-marah serta tantrum. Oleh karena itu Ayah dan Bunda harus mengajarkan bagaimana agar dia dapat mengendalikan emosinya. Berkaitan dengan aspek komunikasi pada poin sebelumnya, diharapkan dia dapat mengatakan bahwa dia sedang marah, atau kesal.
Orang tua perlu menanamkan bahwa marah dan kesal merupakan hal manusiawi, yang terpenting marah pada tempatnya dan tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Penting juga mengajarkan anak supaya ketika tantrum tidak menyakiti dirinya sendiri, tidak membahayakan orang lain, tidak merusak benda–benda di sekitarnya, dan tidak melakukan hal–hal yang berbahaya.
Ketujuh: Kepatuhan
Perlu juga untuk mengajarkan kepatuhan dalam bersikap, baik di rumah maupun di luar rumah. Ajarkan anak caranya bersikap baik dalam berbagai hal, dengan menjelaskan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jelaskan pula konsekuensinya ketika melakukan hal-hal tersebut.
Seperti diketahui bahwa anak-anak disabilitas intelektual biasanya kesulitan dalam menunggu giliran karena selalu ingin lebih dulu. Maka dari itu perlu diajarkan mengantre dengan hal-hal sederhana di rumah, sebelum mengantre di tempat umum.
Selain wawasan tentang bagaimana menstimulasi tumbuh kembang anak disabilitas intelektual, Ayah dan Bunda perlu memiliki kelapangan hati saat mengajarkannya agar dapat dilakukan dengan lembut. Siapkan juga kesabaran karena ini akan membutuhkan waktu yang tidak singkat, karena perlu diulang-ulang dalam mengajarkannya.