Apraksia
Terjadinya apraksia ada hubungannya dengan gangguan kesehatan sistem saraf otak, tapi tak berhubungan dengan gangguan otot karena otot sama sekali tidak bermasalah. Karena kondisi kesehatan ini, penderitanya akan menjadi kesulitan dalam mengkoordinasikan gerakan anggota tubuh.

Apraksia memiliki berbagai jenis, salah satunya apraksia bicara. Apraksia bicara bisa terjadi pada semua usia, baik orang dewasa maupun anak-anak. Pada kasus yang diderita oleh anak-anak, apraksia bisa saja terjadi karena faktor bawaan lahir karena apraksia diderita sejak lahir. Berbeda dengan keterlambatan bicara, apraksia bicara ini adalah kondisi di mana seorang anak tidak dapat mengoordinasikan bagian-bagian mulutnya untuk membentuk kata-kata.
“Pikiran itu ada di sana, tetapi pesannya tidak sampai ke mulut,” kata Christina Doelling, ahli patologi bicara di Rumah Sakit Anak Nationwide, di Columbus, Ohio, dilansir dari Parents.com. Namun kabar baiknya, jika ini bisa dideteksi lebih awal dan segera diberikan terapi wicara maka apraksia bicara bisa disembuhkan secara total.
Adapun beberapa gejala apraksia bicara pada anak adalah sebagai berikut:
- Anak mengalami kesulitan ketika harus mengucapkan konsonan dan vokal. Ia tak bisa mengucapkan konsonan maupun vokal tertentu.
- Anak mengalamo kesulitan ketika harus menggabungkan sumber suara yang berbeda dengan tujuan untuk pembentukan kata.
- Anak mengalami kesulitan ketika harus menghasilkan perkataan yang bisa orang lain pahami; dalam hal ini ada sedikit kemiripan dengan kondisi disartria.
- Bayi dengan apraksia akan lebih lamban dalam hal kemampuan berbicara. Kemampuan ini akan muncul lebih akhir apabila dibandingkan dengan bayi-bayi seumurnya.
- Anak mengalami kesulitan dalam pengucapan kata-kata, khususnya bila ia ingin berbicara dengan kata-kata yang panjang.
- Anak mengalami kesulitan ketika ia ingin berbicara spontan.
- Anak memberi tekanan yang salah pada suku kata yang ia ucapkan.
- Anak mengalami sulit makan.