Daftar Isi
1. Alergi Makanan dan Gangguan Pendengaran
Jika anak sering menderita infeksi telinga, ia mungkin berisiko kehilangan pendengarannya. Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan alergen tertentu dapat meningkatkan peradangan di dalam telinga dan menyebabkan infeksi berulang.
Jika fungsi pendengarannya terganggu maka dikhawatirkan perkembangan bicaranya pun akan terganggu. Maka dari itu makanan ini secara tidak langsung juga berdampak pada keterlambatan bicara.

2. Makanan dan Sistem Kekebalan Tubuh
Ketika seorang anak tidak mengkonsumsi makanan yang seimbang maka dikhawatirkan akan mengalami kekurangan nutrisi. Kekurangan asam folat, seng, besi, tembaga, selenium, dan vitamin A, B6, C, D, dan E dapat menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh.
Tidak cukupnya asam lemak esensial dalam makanan dapat menurunkan produksi sel imun dalam tubuh. Kemudian sistem kekebalan yang kurang berkembang dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami infeksi telinga dan akhirnya menyebabkan gangguan pendengaran.
Beberapa penelitian telah membuktikan hubungan erat antara kekurangan nutrisi dan melemahnya sistem kekebalan tubuh dengan keterlambatan bicara pada balita dan anak-anak usia sekolah.
3. Penyakit Defisiensi dan Perkembangan Neurologis
Jika anak mengalami picky eater atau pilih-pilih makanan, maka si Kecil dapat kekurangan vitamin dan atau mineral tertentu yang tidak ia dapatkan karena menolak makanan yang mengandung zat esensial tersebut. Maka konsekuensinya lagi-lagi adalah kekurangan nutrisi.
Kekurangan nutrisi dapat menghalangi perkembangan neurologis anak. Seorang anak yang tidak menerima nutrisi lengkap dapat mengalami keterlambatan perkembangan fungsi otak dan kognisi jangka panjang.
Oleh karena itu, anak autis yang tidak menyukai kelompok makanan tertentu dapat menunjukkan tanda-tanda keterlambatan bicara yang lebih parah jika mereka tidak cukup mengonsumsi Vitamin B6, B12, dan B9.
4. Makanan, dan Kesehatan Mental
Terdapat sebuah hasil studi yang relatif baru yaitu psikobiotik, berfokus pada efek mikroflora usus pada kesehatan dan perkembangan mental seseorang. Psikobiotik yaitu sekelompok probiotik yang mempengaruhi fungsi dan perilaku terkait sistem saraf pusat (SSP) yang dimediasi oleh sumbu usus-otak (GBA) melalui jalur imun, humoral, saraf, dan metabolisme
Psikobiotik ini tidak hanya meningkatkan fungsi gastrointestinal (GI) tetapi juga kapasitas antidepresan dan ansiolitik. Hanya mengonsumsi sedikit jenis makanan (yang biasa dilakukan oleh si picky eater) dapat menyebabkan asam lambung dan enzim tidak seimbang. Itu bisa mengganggu ekosistem usus normal.
Tidak adanya mikroflora penyerap mikronutrien di usus dapat menyebabkan perkembangan neurologis yang tidak tepat . Ini dapat membahayakan kesehatan mental dan produktivitas anak. Ketika kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi, mereka dapat mengalami berbagai gejala termasuk berbagai keterlambatan perkembangan.