
Orang tua yang telah mendidiknya adalah orang tua yang perlu ditiru cara pengasuhannya. Meski kita tidak bisa menyamakan antara anak satu dengan lainnya, namun kita bisa meniru bagaimana orang tuanya memperlakukannya sehingga ia bisa menjadi pribadi yang tangguh seperti sekarang.
Bayangkan, seorang anak yang memiliki keterbatasan saja dapat menjadi sosok yang membanggakan, bagaimana dengan anak yang normal seperti pada umumnya? Seharusnya ia bisa berprestasi juga, jika memiliki orang tua yang selalu mendukungnya melalui pola asuh yang positif.
Namun satu hal yang perlu dipahami bersama, bahwa anak dengan disabilitas intelektual atau disabilitas apapun tidak layak untuk dihina dan dicemooh hanya karena kekurangannya. Karena pada dasarnya kita semua sama di mata Tuhan Sang Pencipta.
Alih-alih menerima cemoohan dan berpasrah pada keadaan, orang tua Parni justru mampu membuktikan bahwa anaknya yang berkebutuhan khusus mampu menorehkan prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia. Meski dengan segala keterbatasan, seorang penjual tempe tersebut dapat membuktikannya kepada dunia.
Bukan fasilitas mewah yang dibutuhkan anak-anak untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Fasilitas memang dibutuhkan untuk menstimulasi anak-anak, namun itu bukan segalanya. Karena adanya fasilitas yang memadai dan mewah namun tidak ada kehadiran dan perhatian dari orang tuanya juga dapat menghambat tumbuh kembangnya.
Karena tumbuh kembang anak itu tidak hanya dilihat dari fisiknya saja, melainkan juga psikis sang anak. Anak yang bahagia diyakini dapat tumbuh dan berkembang lebih optimal ketimbang anak yang kurang mendapatkan kebahagiaan.