
Kemudian juga mengajarkan risiko yang dapat terjadi jika anak melakukan sesuatu. Seperti jika anak makan dan minum sembarangan bisa batuk, dan sebagainya. Ini terdengar sepele, namun anak disabilitas intelektual sangat membutuhkan pemahaman seperti ini.
Selain sebab akibat, anak juga perlu diajarkan untuk mengidentifikasi benda dan istilah-istilah di sekitarnya. Seperti menjelaskan mana yang disebut ayah, mana bunda, mana kucing, mana atas, mana bawah dan seterusnya. Kemudian juga diajarkan melakukan hal–hal sederhana lainnya seperti cara menyalakan TV, memegang sendok, dan lain-lain.
Ketiga: Komunikasi
Dalam aspek komunikasi, anak disabilitas intelektual dan down syndrome perlu diajarkan cara berkomunikasi. Seperti diketahui bahwa anak-anak tersebut akan tertinggal dalam beberapa fase tumbuh kembangnya, salah satunya adalah keterlambatan bicara. Sehingga membutuhkan stimulasi khusus agar ia dapat berkomunikasi.
Mengajarkan berkomunikasi untuk anak-anak ini dengan diajarkan cara meminta, menyampaikan apa yang dia rasakan dan inginkan. Keberhasilan stimulasi dalam aspek komunikasi ini ditandai dengan anak dapat mengatakan dengan kata-kata yang benar dan struktur kalimat yang benar.Selain itu anak dapat mengajukan pertanyaan dan merespons pertanyaan yang kita berikan.
Keempat: Interaksi
Cara sederhana untuk melatihnya dalam berinteraksi dengan orang lain adalah dengan kontak mata. Ini dilakukan supaya anak dapat melakukan kontak mata dengan orang yang berbicara dengan dia dan dapat fokus terhadap apa yang disampaikan.
Tidak hanya diajarkan dengan manusia saja, sebaiknya Ayah dan Bunda mengajarkan anak untuk melakukan kontak mata dengan objek, agar ia dapat fokus dengan apa yang ia lihat. Salah satu indikator keberhasilannya yaitu anak dapat menyampaikan rasa ketidaknyamanan atau ketidaksukaan saat dipeluk atau dicium. Selain itu, anak dapat berinisitaif untuk melakukan interaksi dengan orang di sekitarnya.