Jangan Anggap Remeh Penyakit Mental Ibu, Agar Bayi tak Jadi Korban

Copy Link

KeluargaKesehatan Mental
29 June 2022
author

dr. Andreas menyebutkan dalam kasus yang terjadi di Surabaya tersebut terjadi karena kemungkinan sang ibu memiliki memori panjang yang negatif dalam dirinya yang kemudian mempengaruhi perilakunya di masa sekarang. Menurutnya sang ibu pada masa kecilnya pernah mengalami masa di mana saat ia meminta sesuatu dengan cara tantrum langsung diberikan.

Kemudian juga kemungkinan saat di rumah dia selalu dianggap benar dan tidak pernah ada yang melarang. Sehingga dia tidak pernah merasa bahwa dirinya salah, dan biasanya orang seperti ini anti-kritik atau tidak menerima kritikan dari orang lain. Sehingga saat dewasa ia akan merasa selalu benar dan tidak mau mendengar masukan dari orang lain.

Baca Juga  Aktivitas DIY: Cara Seru Kembangkan Kreativitas dan Kemandirian Anak di Rumah
Anak sedang makan
Anak sedang makan

Ibunya bukan nggak bisa kontrol emosi, dia tidak terbiasa mendapatkan kritikan atau tidak biasa mendapat teriakan, misalnya berantem sama suaminya, emosi, lalu bayi tidak tahu apa-apa kebetulan aja dia menangis, emosinya masih tertahan, lalu bayi menjadi sasaran untuk dia apain, dilempar, dipukul, jadi pelampiasan emosinya dia yang tidak terkendali,” tuturnya di kantor Generos, Tangerang Selatan, Rabu (29/6).

Maka dari itu penting untuk menyadari inner child dalam diri agar dapat segera diatasi. Orang-orang sekitar juga berperan besar, dalam hal ini suami yang seharusnya menjadi orang terdekat sang ibu. Suami yang baik seharusnya melihat tanda-tanda yang perlu diwaspadai dari istrinya. Sehingga suami bisa menjadi penenang dan memberikan bahu untuk bersandar bagi istrinya yang tengah kelelahan mengasuh anak sekaligus mengurus urusan rumah tangga.

Baca Juga  7 Mitos dan Fakta Tentang Disabilitas Intelektual

Selain itu, dr. Andreas juga menyoroti kondisi bayi yang baru berusia 5 bulan itu dikabarkan mengalami stunting. Ia menggambarkan fenomena ibu masa kini yang memiliki banyak ide namun terkadang kurang tepat dalam penempatannya. Hal itu seperti saat seorang ibu yang menyajikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang hambar seperti anjuran dari dokter, namun juga memberikan cemilan kemasan, alih-alih memberikan cemilan sehat dan alami seperti ubi atau singkong.

Dengan kebiasaan memberikan cemilan kemasan tersebut akhirnya membuat sang anak terbiasa dengan rasa enak versi makanan instan, sehingga akhirnya anak kurang menyukai rasa makanan rumahan yang dibuat oleh ibunya. Anak yang seperti akan rentan kekurangan nutrisi sehingga akan mengalami stunting. Sehingga perlu digarisbawahi dalam memberikan makanan kepada anak terutama balita perlu memperhatikan kandungan nutrisinya, tidak bisa sembarangan asal anak mau makan.

Baca Juga  Bunda Wajib Tahu! Ini yang Akan Terjadi pada Otak si Kecil Jika Screen Time Terlalu Lama

 

Tags :
Artikel Terbaru

Artikel Lainnya