
Ini berbeda dengan mengkudu batu yang hanya mengandung air maksimal 29 persen. Menurutnya kedua jenis mengkudu ini sama bagusnya. Hanya saja dalam membudidaya perlu memperhatikan pengolahan yang akan dilakukan. Karena untuk bahan baku Generos yang diklaim terbuat dari bahan herbal yang difermentasi, maka membutuhkan mengkudu dengan kandungan air yang tinggi.
Maka dari itu ia memilih mengkudu jagung. Hal itu karena untuk melakukan proses fermentasi membutuhkan air sari mengkudunya. Sedangkan untuk mengkudu batu lebih cocok untuk pengolahan dengan sistem dikeringkan.
Ia mengaku bisa memanen mengkudu setelah usia tanaman 6 bulan. Setelah itu pemanenan dilakukan sepekan sekali, karena jika terlambat sedikit maka buah mengkudu akan matang kemudian jatuh. Tentu ini akan mengurangi tingkat higienitas buah tersebut.
Ia mengaku bisa memanen satu ton buah mengkudu setiap pekannya. Karena dari lahannya seluas 1 hektare tersebut terdapat kurang lebih 1000 pohon. Maka jika dalam satu pohon menghasilkan satu kilogram mengkudu maka hasilnya 1 ton mengkudu yang siap untuk difermentasi menjadi bahan baku suplemen Generos.
Ia ternyata tidak sendiri, ia mengaku telah memberdayakan kelompok tani lain untuk turut menanam pohon mengkudu yang akan dijadikan sebagai bahan baku suplemen anak tersebut. Dengan demikian ekonomi petani mengkudu di sekitarnya juga terbantu.
Menurutnya setelah menjadi supplier Generos perekonomiannya cukup terangkat. Karena ia telah mendapatkan pelanggan yang selalu menantikan hasil panennya. Sehingga ia tidak susah-susah lagi untuk mencari pembeli hasil panennya tersebut.