
Menjadi orang tua yang mampu menerima keadaan anak dan supportive akan mengakibatkan perkembangan yang baik dan cepat pada anak dengan disabilitas intelektual. Yang terpenting orang tua dapat menerima dan mampu untuk membuka hati, pikiran, dan mau untuk melakukan hal–hal baru yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan.
Di sini pentingnya peran masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak disabilitas intelektual. Bahkan, hanya dengan tidak mendiskriminasikan mereka saja sudah cukup membantu tumbuh kembang mereka. Karena diskriminasi tersebut yang membuat orang tua merasa terkucilkan dan malu karena telah memiliki seorang anak yang mengalami disabilitas.
Orang tua memang dituntut untuk dapat menerima anaknya sepenuhnya bagaimanapun keadaannya. Namun tidak ada salahnya masyarakat sekitar untuk turut membantu mengoptimalkan tumbuh kembang mereka. Hal sederhana seperti tidak menggunjingkannya dan tidak memandang aneh mereka sudah cukup membantu.
Apalagi jika masyarakat sekitar turut memahami kendala yang dialami anak dengan disabilitas intelektual. Sehingga masyarakat akan lebih menerima jika di kemudian hari mereka melakukan hal yang tidak sewajarnya anak-anak pada umumnya.
Bahkan, seperti yang kita ketahui bahwa anak-anak memiliki keterbatasan untuk memahami hal-hal rumit seperti yang dilakukan orang dewasa. Apalagi jika anak tersebut memiliki kendala karena mengalami disabilitas intelektual, tentu membutuhkan lebih banyak ‘pemakluman’ dari masyarakat sekitar.
Anak disabilitas intelektual bisa bermain seperti anak-anak pada umumnya. Namun ia kesulitan dalam beberapa hal, salah satunya memahami konsep mengantre. Mereka tidak dapat menalar apa fungsinya mengantre dan keharusan mengantre. Juga, mereka memang cenderung selalu ingin lebih dulu.
Dengan begini maka perlu diberikan stimulasi dengan mengajarkan permainan seperti simulasi mengantre. Selain itu mereka juga sulit untuk memahami apakah yang dilakukan berbahaya atau tidak. Oleh karena saat berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya perlu pendampingan penuh. Intinya adalah stimulasi, meskipun perlu dilakukan berulang kali dan sangat membutuhkan kesabaran, mereka tetap bisa memiliki kemandirian jika sudah distimulasi secara kontinyu.
Satu hal yang perlu diingat bahwa anak-anak dengan disabilitas intelektual tentunya tidak berharap untuk dilahirkan demikian, pun halnya dengan orang tua mereka. Mereka juga manusia seperti kita, sehingga mereka juga berhak untuk dihargai keberadaannya.