Daftar Isi
2. Berikan Perhatian pada Anak
Berikan perhatian positif pada anak setiap saat, bukan hanya saat gejala temper tantrum muncul. Biasakan untuk mengerti dan mengobrol dengan anak.
Bila perlu, berikan anak hadiah atau pujian saat anak mau mendengarkan dan memerhatikan Anda.
3. Berikan Anak Pilihan
Anak mungkin meminta sesuatu, misalnya mainan robot, dan Anda akan bilang “tidak!“. Hindari menolak anak dengan bilang “tidak” atau “jangan” karena anak akan terpancing untuk ngambek dan tantrum.
Lebih baik, beri anak pilihan agar anak juga dapat memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Misalnya, “mau beli mainan robot atau pergi ke taman untuk main dengan teman-teman lain?“.
Bila anak tidak mau mandi, beri pilihan untuk “setelah mandi kita pergi ke taman atau bila tidak mandi nanti tidak jadi main di taman”.
Pilihan tersebut akan membuat anak berpikir dan mengenal konsekuensi atas pilihannya.
4. Jauhkan Benda Berbahaya di Sekitar Anak
Saat anak sedang tantrum, biasanya anak juga akan memukul dan melemparkan benda-benda yang bisa diraihnya.
Bunda harus menjauhkan objek berbahaya di sekitar anak, walaupun kadang tidak memungkinkan bila sedang berada di luar rumah.
Sebaiknya, tenangkan anak dengan cara menggendongnya hingga tenang. Coba meminimalisir gejala tantrum pada anak agar tidak terlalu meledak.
5. Ajari Anak Aktivitas Baru
Cara mencegah anak tantrum dengan mengajarinya aktivitas atau keterampilan baru hingga berhasil. Beri pujian atau hadiah pada anak bila dapat melakukannya.
Dengan begitu, anak akan belajar cara mengontrol emosi dan tidak tantrum setiap saat.
6. Pahami Perasan Anak
Bunda harus memahami perasaan dan kondisi anak. Bila akan lapar, haus, lelah, anak cenderung lebih rentan mengalami tantrum.
Kurangi risiko tantrum dengan berbicara pada anak tentang apa yang anak rasakan dan inginkan.
7. Alihkan Perhatian Anak
Ketika anak mulai menunjukkan gejala tantrum seperti marah, menangis, atau berteriak, maka segera alihkan perhatiannya dengan sesuatu yang menarik.
Misalnya, gendong anak ke luar rumah untuk melihat layang-layang atau buat lelucon tentang hewan hingga anak lupa apa yang tadi membuatnya menangis.
8. Ajari Anak untuk Komunikasi
Sering kali tantrum terjadi karena anak-anak belum memiliki kemampuan ekspresi yang baik.
Anak tidak bisa mengatakan apa yang ia mau hingga menangis atau marah menjadi pilihan satu-satunya.
Maka dari itu, mulai ajari anak cara komunikasi dan ekspresi. Beritahu anak caranya mengatakan atau mengekspresikan, “aku mau itu, aku tidak suka, aku lapar, aku lelah…” dan sebagainya.
Bila anak tahu cara berekspresikan, anak tidak akan tantrum lagi.