
Maka dari itu ustadz Zaky menjelaskan salah satu cara untuk mengatasi fatherless dalam keluarga yaitu komunikasi. Bukan hanya sekadar basa-basi, namun berkomunikasi dengan anak secara intens meskipun sudah disibukkan dengan mencari nafkah.
Ia mengaku sering pergi ke luar kota karena tuntutan pekerjaan, sehingga mau tidak mau waktu dengan anak terbatas. Namun seharusnya itu bukan menjadi penghalang bagi kedekatannya dengan anak-anaknya. Setiap akan pergi ke luar kota ia selalu berpamitan dengan anak-anaknya dan mengajak berkomunikasi, seperti “nanti kalau Uba pulang mau apa?”
Dengan begitu maka anak-anak akan tahu bahwa meskipun ayahnya sering pergi meninggalkan mereka namun ayahnya masih ingat dan tetap perhatian dengan mereka. Ini dibuktikan dengan oleh-oleh yang dibawakan sesuai permintaan anak-anak pada saat sebelum berangkat.
Selain itu juga penting untuk memberikan fasilitas yang memadai kepada anak. Menurutnya penting adanya fasilitas untuk melekatkan bonding antara ayah dan anak. Fasilitas tersebut tentunya berupa mainan-mainan yang disukai anak-anak dan juga buku-buku bacaan untuk anak. Dengan adanya mainan-mainan tersebut maka ayah dapat dengan mudah mencari ide bermain dengan anak-anak dan dapat mengajarkan pelajaran-pelajaran sederhana kepada anak-anak.
Termasuk saat kita meminta anak untuk diam, misalnya. Ustadz Zaky menyebutkan, jika orang tua meminta anak untuk diam maka juga harus memberikan fasilitas, jadi tidak hanya menginstruksi saja. Yaitu dengan mainan yang dapat mengalihkan perhatiannya ke mainannya tersebut.
Dengan bonding yang kuat maka anak akan merasa bahwa teladan dari ayahnya sudah cukup dan keinginannya terpenuhi. Tentunya keinginan yang tidak hanya dalam bentuk materi saja tapi juga perhatian dan kasih sayang.