Setelah melalui berbagai pemeriksaan, akhirnya Uta menjalani terapi bicara untuk melemaskan otot-otot mulutnya.
Di usianya saat itu, fokus Uta saat bicara masih kurang dan ada artikulasi yang kurang jelas. Gerakan oral motor Uta juga belum lancar, sehingga ia kesulitan mengunyah makanan.
Sehingga terapi yang Uta jalani bertujuan untuk memperbaiki gerak oral motor supaya lebih maksimal.
Terapi itu pun cukup membuahkan hasil, Uta sudah bisa makan tanpa di-blender, sudah bisa menggosok gigi dan bicaranya mulai jelas.
Gina mengaku sempat nggak tega saat melihat Uta di awal-awal terapinya, karena proses pijat mulut seringkali membuat Uta menangis.
Selain terapi, Gina juga telaten memberikan stimulasi seperti mengajak Uta gosok gigi sendiri, mencoba berbagai jenis makanan yang menarik dan mengajak bicara Uta dengan kalimat yang lengkap.
Gina juga menyarankan para orang tua supaya selalu mengajak anaknya bicara dengan kalimat lengkap, misalnya jangan hanya menunjuk, menggelengkan kepala atau mengangguk.
Tapi harus diucapkan dengan kalimat supaya bisa melatih respon bicara pada anak.
4 Cara Mengatasi Anak yang Mengalami Speech Delay

Dikutip GENEROS.ID dari situs Kids Health, selain menjalani terapi wicara, Bunda dapat membantu menstimulasi kemampuan bicara Si Kecil.
Beberapa cara yang bisa Bunda lakukan untuk menstimulasi perkembangan berbicara Si Kecil antara lain:
1. Sering Mengajak Anak Bicara
Cara menstimulasi anak dengan speech delay yang paling mudah dilakukan adalah melibatkannya pada setiap percakapan.
Bahkan, Bunda disarankan untuk berbicara langsung kepadanya, meski hanya untuk menceritakan apa yang sedang Bunda lakukan.
Sebagai contoh, saat mengganti popok anak, ceritakan dan jelaskan apa yang sedang Bunda lakukan.
Bunda bisa menggunakan kata-kata sederhana atau kalimat pendek.
Dengan demikian, Si Kecil akan terdorong untuk meniru atau menanggapi perkataan Bunda.