Anak yang terlambat bicara dalam konteks ini cenderung memiliki keterampilan bahasa reseptif yang khas, ia memahami apa yang dikatakan kepadanya, meskipun ia tidak dapat mengeluarkan bahasa verbal untuk merespons. Anak dengan kondisi ini lebih sering menggunakan gerak tubuh, mungkin untuk mengimbangi keterampilan bahasa ekspresif yang terbatas.

Bagi anak yang mengalami gangguan bicara ini, setelah perkembangan bahasa tingkat dasar telah tercapai, maka terapis wicara dapat menentukan strategi di rumah untuk menambah kosakata dan meningkatkan perkembangan bahasa ekspresifnya. Ia biasanya akan dapat mengejar ketertinggalan kemampuan bicaranya pada usia 3-5 tahun.
Akan tetapi, mereka yang mengalami late talker dapat berisiko mengalami kesulitan bahasa atau literasi di kemudian hari saat ia telah bersekolah. Bahkan ada pula yang dikaitkan dengan kesehatan mentalnya, artinya anak yang mengalami late talker di masa kecilnya dapat berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya di masa depan.
Sebuah studi baru-baru ini dari Universitas Northwestern menyatakan bahwa anak yang mengalami late talker cenderung mudah tantrum dengan kapasitas dua kali lebih sering ketimbang anak-anak lainnya yang perkembangan bahasa dan bicaranya tidak terganggu.
Ini adalah studi pertama yang secara langsung menghubungkan jumlah kosakata dengan perilaku tantrum. Dan ini juga menunjukkan bahwa gangguan kemampuan bicara dan kesehatan mental memiliki hubungan langsung. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penting untuk melakukan intervensi dini untuk membekali anak-anak dengan keterampilan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka.
Language Delay
Language delay atau keterlambatan bahasa merupakan keterlambatan perkembangan kemampuan bicara dengan spesifikasi khusus yaitu ketika bahasa anak berkembang lebih lambat dari anak lain seusianya, namun memiliki pola perkembangan yang khas. Dalam hal ini, keterlambatan bahasa dibagi menjadi dua, yaitu:
- Keterlambatan bahasa reseptif (pemahaman bahasa)
- Keterlambatan bahasa ekspresif (penggunaan bahasa)
Kemampuan bahasa seorang anak dipengaruhi oleh perpaduan antara genetik dan lingkungan. Kemampuan bahasa ini muncul ketika anak berada dalam situasi di mana mereka dihadapkan pada bahasa dan interaksi sosial yang normal. Sehingga interaksi dengan lingkungannya menjadi faktor penting dalam melatih kemampuan bahasa si Kecil.
Dalam hal keterlambatan perkembangan lain sebagai penyertanya, keterlambatan bahasa dibagi menjadi dua, yaitu:
- Keterlambatan bahasa primer, yaitu ketika diagnosis yang muncul hanyalah keterlambatan bahasa tanpa ada keterlambatan perkembangan dalam aspek lain.
- Keterlambatan bahasa sekunder, yaitu ketika diagnosis yang muncul adalah anak mengalami keterlambatan bahasa disertai dengan adanya gangguan lain seperti autisme, gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan global atau global development delay.
Demikian perbedaan antara late talker dan language delay, dengan mengetahui perbedaan keduanya maka Ayah dan Bunda tidak akan bingung lagi untuk melakukan tindakan lebih lanjut ketika si Kecil mengalami keterlambatan tersebut. Namun jika itu semua belum terlambat maka lebih baik untuk mencegah ketimbang mengobati, bukan?