Kenapa Bayi Tidak Boleh Diberikan Madu?

Dilansir laman Healthline, risiko utama memperkenalkan madu pada usia di bawah enam bulan adalah botulisme. Ini adalah kondisi serius dan langka pada bayi, Bunda.
Botulisme pada bayi disebabkan karena bayi mengonsumsi Klostridium botulinum spora yang ditemukan di tanah, madu, dan produk madu.
Spora ini berubah menjadi bakteri di usus dan menghasilkan neurotoksin berbahaya di dalam tubuh.
Sekitar 70 persen bayi yang terkena botulisme mungkin memerlukan ventilasi mekanis selama rata-rata 23 hari.
Jika bayi memerlukan perawatan di rumah sakit, rata-rata mereka akan menjalani rawat inap sekitar 44 hari, Bunda.
Kebanyakan bayi yang terkena botulisme sembuh dengan pengobatan yang diberikan. Tingkat kematian bayi karena kondisi ini adalah kurang dari dua persen.
Gejala botulisme pada bayi sendiri adalah sebagai berikut:
- Bayi merasa lemah dan lesu
- Pemberian makan yang buruk
- Bayi lesu
- Mudah tersinggung
- Sulit bernapas
- Menangis dengan lemah
- Beberapa bayi mungkin mengalami kejang
Gejala ini biasanya muncul sekitar 12 hingga 366 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Gejalanya pun diawali dengan konstipasi. Meski begitu, beberapa bayi mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda sampai hari ke-14.
Bolehkah Anak Minum Madu Setiap Hari?
Madu adalah karbohidrat yang tinggi akan gula yakni glukosa dan fruktosa. Madu sendiri memiliki sekitar 60 kalori atau lebih per sendok makan.
Jika anak perlu mengelola gula darah maupun berat badannya, menambahkan madu untuk dikonsumsi setiap hari bukanlah pilihan yang tepat.
Sesendok madu sehari mungkin cocok untuk anak selama Bunda membatasi semua gula tambahan lainnya. Selain itu, ketahui juga batasan gula harian anak, ya.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Gizi dan Metabolik, dr. Yoga Devarea Sp.A(K), turut menjelaskan tentang rekomendasi gula harian anak. Dokter Yoga menyebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan pemberian gula anak maksimal 10 persen per hari.
“WHO sekarang merekomendasikan 10 persen. Kalau kita baca, 10 tahun, 20 tahun yang lalu rekomendasinya masih 20 dan 15 persen, dan sekarang menjadi 10 persen. Dengan ada tanda penjelasan jika bisa di bawah lima persen akan lebih baik,” ujarnya dalam acara ‘Forum Ngobras Media Diskusi tentang Meluruskan Miskonsepsi Gula pada Nutrisi Anak’, beberapa waktu lalu.
“Jadi, sekarang, karena saya dokter anak, tentunya mengikuti anjuran profesi. Jadi dari asosiasi dokter anak di Eropa maupun di Amerika, akan rekomendasikan total gula tambahan di bawah 10 persen,” sambungnya.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Yoga menyebut angka pemberian gula pada anak pun berbeda-beda. Hal ini karena kebutuhan kalori setiap anak tidak sama.
“Jadi, total itu jadi relatif, ya. Tergantung dari segala banyaknya kebutuhan kalori pada anak itu, 10 persennya boleh dalam bentuk gula bebas,” paparnya.